Ekonomi
Dari Pesisir Laha untuk Dunia, Kelompok Mahina Laha Menenun Harapan Melalui Ecoprint
Infobaru.co.id, Ambon – Di pesisir Negeri Laha, Kota Ambon, ombak selalu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Laut memberi kehidupan bagi masyarakat, tetapi juga menghadirkan ketidakpastian.
Ketika cuaca buruk datang dan nelayan tak dapat melaut, penghasilan keluarga ikut berhenti. Bagi banyak perempuan nelayan, kondisi tersebut pernah menjadi kenyataan yang harus diterima.
Namun, sekelompok perempuan di Negeri Laha memilih jalan yang berbeda. Mereka tidak menunggu perubahan datang, melainkan menciptakannya sendiri.
Mereka membentuk Kelompok Perempuan Pesisir Mahina Laha, yang kini berkembang menjadi salah satu contoh keberhasilan pemberdayaan perempuan dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan di Maluku.
Perjalanan perubahan itu dimulai pada Agustus 2024 ketika GEF-6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia melalui program The Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) in Eastern Indonesia within Fisheries Management Areas (FMAs) 715, 717, and 718 memfasilitasi pelatihan ecoprint bagi perempuan pesisir dari Negeri Laha, Tawiri, dan Batumerah.
Selama tiga hari, para peserta belajar mengubah daun, bunga, dan berbagai tanaman yang tumbuh di sekitar mereka menjadi motif alami pada kain. Bagi sebagian besar peserta, ecoprint merupakan sesuatu yang benar-benar baru.
Namun lebih dari sekadar mempelajari teknik membatik ramah lingkungan, mereka menemukan peluang baru: memanfaatkan kekayaan alam tanpa merusaknya sekaligus menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi keluarga nelayan.
Dari pelatihan sederhana itulah lahir sebuah keyakinan bahwa perempuan pesisir mampu menghasilkan karya bernilai ekonomi tanpa meninggalkan identitas mereka sebagai penjaga keluarga sekaligus penjaga alam.
Dengan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan oleh GEF-6 CFI Indonesia, Mahina Laha tidak berhenti sebagai kelompok binaan. Mereka tumbuh menjadi kelompok usaha yang dikelola secara gotong royong. Daun-daun yang dahulu hanya menjadi bagian dari lanskap pesisir kini berubah menjadi syal, silk scarf, tote bag, topi, hingga kain ecoprint yang memiliki motif unik dan tidak pernah sama.
Setiap helai daun meninggalkan jejak berbeda. Setiap lembar kain menjadi karya eksklusif yang membawa cerita tentang alam Maluku sekaligus menyampaikan pesan bahwa keindahan dapat lahir tanpa merusak lingkungan.
Namun perjalanan menuju titik itu tidak selalu mudah.
Menurut Sintawati, Champion Mahina Laha, tantangan terbesar justru datang dari proses membangun kelompok.
“Perjalanan Mahina Ecoprint Laha sampai di titik ini tidaklah mudah. Ada suka dan duka yang kami lewati bersama. Kami belajar menyatukan visi dan misi di tengah berbagai pemikiran, menghadapi keterbatasan bahan baku, hingga rumah produksi yang masih sederhana. Alhamdulillah, seiring waktu semua tantangan itu bisa kami lewati,” ungkapnya.
Kini, hasil dari perjuangan tersebut mulai dirasakan oleh seluruh anggota kelompok.
“Kami bangga dan semakin berdaya. Dulu kami hanya menjadi penerima manfaat, sekarang kami tumbuh menjadi penghasil. Terima kasih kepada GEF-6 CFI Indonesia yang telah memberikan pembelajaran, pengalaman, dan keterampilan ecoprint. Pelatihan ini benar-benar menjadi nilai tambah sekaligus tiket bagi kami untuk naik kelas,” jelasnya.
Semangat tersebut diterjemahkan dalam peningkatan produksi yang terus berkembang. Hingga pertengahan tahun 2026, Mahina Laha telah menghasilkan ratusan lembar kain ecoprint, puluhan silk scarf, lebih dari seratus tote bag, topi berbahan ecoprint, serta mulai mengembangkan outer ecoprint sebagai produk unggulan berikutnya.
Inovasi mereka juga berkembang ke sektor olahan hasil perikanan. Melalui pelatihan diversifikasi produk yang difasilitasi GEF-6 CFI Indonesia, kelompok ini memproduksi bagea ikan, stik ikan, dan abon ikan sebagai sumber pendapatan tambahan bagi keluarga nelayan. Diversifikasi usaha tersebut menjadi strategi penting agar ekonomi rumah tangga tidak sepenuhnya bergantung pada hasil tangkapan di laut.
Hasilnya mulai terlihat nyata. Selama Januari hingga Juni 2026, nilai penjualan Mahina Laha mencapai lebih dari Rp29 juta, berasal dari penjualan produk ecoprint, olahan hasil perikanan, hingga jasa pelatihan yang kini mulai diminati berbagai instansi.
Namun bagi Maliha The, Ketua Kelompok Mahina Laha, keberhasilan mereka bukan sekadar diukur dari angka penjualan.
“Bagi kami, setiap helai kain bukan sekadar produk kerajinan, tetapi wujud rasa cinta dan penghormatan kepada alam. Dengan memanfaatkan bahan-bahan alami dari lingkungan sekitar, kami berkomitmen menghadirkan produk ecoprint yang ramah lingkungan, etis, sekaligus memberi kontribusi nyata bagi kelestarian bumi,” harapnya.
Menurutnya, perjalanan Mahina Laha tidak mungkin mencapai titik ini tanpa kolaborasi yang kuat.
“Kami sangat bersyukur dapat membangun kerja sama dengan banyak mitra, salah satunya Batik Manise Maluku B’Gaya by Efie. Kemitraan ini tidak hanya memperluas pasar, tetapi juga membuka ruang belajar yang luar biasa bagi anggota kelompok. Melalui ecoprint kami membuktikan bahwa perempuan bisa berdaya, mandiri secara ekonomi, dan saling menguatkan. Kemitraan ini semakin mengukuhkan langkah Mahina Laha menjadi kelompok usaha yang mandiri, tangguh, dan berkelanjutan,” katanya.
Perubahan terbesar sesungguhnya bukan hanya pada produk yang mereka hasilkan, tetapi pada diri para anggotanya. Perempuan-perempuan yang sebelumnya hanya mengikuti pelatihan kini dipercaya menjadi instruktur, berbicara di depan publik, hingga menjadi inspirasi bagi komunitas lain.
Mahina Laha telah memberikan pelatihan kepada Dharma Wanita Persatuan BPPP Ambon, Dharma Wanita SUPM Ambon, hingga anak-anak sanggar binaan Ibu Bupati Buru. Mereka yang dahulu duduk sebagai peserta kini berdiri di depan kelas sebagai narasumber
Kepercayaan dari berbagai pihak pun terus berdatangan. Kelompok ini menerima kunjungan Tim CSR BCA yang membuka peluang kemitraan, mendapat pendampingan organisasi dari mahasiswa Beswan Djarum Foundation, menjadi lokasi pembelajaran Tim Monitoring dan Evaluasi Kementerian Kelautan dan Perikanan, hingga dipercaya menjadi narasumber Podcast RRI Pro 4 Ambon bertajuk “Dari Pesisir ke Mancanegara: Karya Perempuan Maluku untuk Dunia.”
Di sisi pemasaran, produk Mahina Laha kini hadir di berbagai gerai oleh-oleh dan ritel modern di Ambon, seperti Gerai Baileo Bandara Pattimura, Fully Souvenir Hotel Santika, Santos, dan The Ambon Manise Shop. Dukungan Bank BNI melalui pembukaan rekening kelompok dan layanan QRIS juga membuat pengelolaan usaha semakin profesional.
Pendampingan GEF-6 CFI Indonesia tidak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi dan akses pasar. Kelompok Mahina Laha juga didorong memperkuat aspek legalitas usahanya. Hasilnya, pada 21 Juli 2026, Sertifikat Merek “Mahina Ecoprint” resmi diterbitkan oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia. Penerbitan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) tersebut menjadi tonggak penting yang memberikan perlindungan hukum sekaligus memperkuat identitas Mahina Laha sebagai produk kreatif perempuan pesisir Maluku yang memiliki daya saing.
Kepercayaan terhadap kualitas karya mereka bahkan telah menembus panggung internasional. Pada November 2026, produk batik ecoprint Mahina Laha direncanakan menjadi salah satu seminar kit pada 11th GEF Biennial International Waters Conference (IWC11) yang akan diselenggarakan di Bali.
Forum internasional tersebut akan mempertemukan para pembuat kebijakan, peneliti, praktisi, dan mitra pembangunan dari berbagai negara, sehingga menjadi kesempatan berharga untuk memperkenalkan karya perempuan pesisir Maluku kepada dunia sekaligus menunjukkan bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat berjalan seiring dengan konservasi ekosistem pesisir.
Perjalanan Mahina Laha juga menjadi bagian dari kebangkitan Desa Wisata Laha, yang pada tahun 2024 meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) sebagai salah satu desa wisata terbaik nasional. Produk ecoprint kini menjadi identitas baru desa yang memadukan keindahan alam, budaya lokal, dan ekonomi kreatif berbasis masyarakat.
Semua capaian tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada pelatihan. Keberhasilan lahir ketika masyarakat memperoleh pendampingan yang berkelanjutan, akses pasar, penguatan kapasitas usaha, dukungan legalitas, jejaring kemitraan, hingga kesempatan untuk terus belajar dan tampil di tingkat nasional maupun internasional.
Hari ini, Mahina Laha tidak hanya dikenal sebagai kelompok pengrajin ecoprint. Mereka telah menjadi simbol bahwa perempuan pesisir mampu menjadi motor perubahan ketika diberi kesempatan untuk belajar, berinovasi, dan berkolaborasi.
Kisah mereka menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari kawasan lindung atau teknologi yang rumit. Perubahan dapat tumbuh dari halaman rumah, dari daun-daun yang selama ini terabaikan, lalu berkembang menjadi karya bernilai ekonomi yang mengangkat martabat keluarga sekaligus menjaga kelestarian alam. Inilah semangat yang dibangun GEF-6 CFI Indonesia melalui pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM)bahwa keberlanjutan ekosistem harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Dari pesisir kecil di Ambon, perempuan-perempuan Mahina Laha kini mengirimkan pesan kepada dunia: ketika perempuan diberdayakan, yang tumbuh bukan hanya sebuah usaha, melainkan harapan baru bagi keluarga, komunitas, dan masa depan laut Indonesia. Perjalanan mereka membuktikan bahwa langkah sederhana dapat melahirkan perubahan besar – hingga akhirnya karya yang lahir dari pesisir Laha siap hadir di panggung dunia. (Red)