Nasional
Sketsa Otentik A.M. Sangadji Tokoh Penggerak Nasional
Infobaru.co.id, Jakarta – Di antara berbagai peninggalan visual dari masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia, terdapat sebuah sketsa sederhana yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Sketsa tersebut menggambarkan Abdoel Moethalib (A.M.) Sangadji, tokoh pergerakan nasional dan pejuang kemerdekaan, yang dibuat oleh Gusti Sholihin (Gusti Sholihin Hasan) di Yogyakarta pada 10 Januari 1948.
Gusti Sholihin merupakan salah seorang pelukis muda berbakat asal Kalimantan Selatan yang kemudian dikenal sebagai pelopor seni rupa modern di daerahnya. Di kemudian hari, ia tercatat sebagai salah satu perintis berdirinya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta kini Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta serta pernah memimpin organisasi Pelukis Indonesia (PI) pada dekade 1950-an. Meskipun wafat dalam usia muda, karya-karyanya meninggalkan jejak penting dalam sejarah seni rupa Indonesia.
Saksi Visual Revolusi
Pada masa Revolusi Kemerdekaan (1945–1949), ketika Yogyakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia, para seniman tidak hanya berkarya untuk kepentingan estetika. Mereka juga berperan sebagai pencatat sejarah, mengabadikan wajah para pemimpin dan pejuang melalui sketsa yang dibuat secara langsung (live sketch).
Berbeda dengan potret studio yang dibuat berdasarkan foto, sketsa langsung memiliki nilai dokumenter yang kuat karena lahir dari pengamatan terhadap objek pada waktu dan tempat tertentu. Oleh karena itu, karya semacam ini dapat dipandang sebagai arsip visual sezaman yang membantu merekonstruksi kehidupan para tokoh selama Revolusi Kemerdekaan.
Sketsa Bertanggal 10 Januari 1948
Pada bagian kanan bawah sketsa terdapat tulisan tangan yang berbunyi:
> “Pak Sangadji
Djogja, 10 Jan. ’48”
Disertai tanda tangan pelukis.
Keterangan tersebut menunjukkan nama tokoh, tempat, tanggal pembuatan, sekaligus identitas pembuat sketsa. Hal ini menjadikan karya tersebut sebagai salah satu dokumen visual sezaman yang merekam sosok A.M. Sangadji ketika Revolusi Kemerdekaan masih berlangsung.
Secara artistik, Gusti Sholihin menggambarkan A.M. Sangadji dalam posisi profil (tampak samping). Kumis tebal yang menjadi ciri khasnya, kopiah tinggi, serta pakaian sederhana tergambar melalui sapuan pena yang cepat namun tegas. Gaya tersebut menunjukkan karakter sketsa lapangan, yang kemungkinan dibuat ketika objek sedang berada dalam suatu kegiatan.
Di sisi kiri gambar tampak sebuah benda yang menyerupai mikrofon era 1940-an. Apabila identifikasi tersebut benar, besar kemungkinan A.M. Sangadji sedang menyampaikan pidato atau menghadiri suatu forum perjuangan. Namun, tanpa dukungan sumber arsip lain, identifikasi tersebut tetap perlu dipahami sebagai interpretasi visual, bukan kesimpulan sejarah yang pasti.
Pertemuan Dua Putra Kalimantan di Ibu Kota Republik
Tanggal 10 Januari 1948 menempatkan sketsa ini dalam konteks yang sangat penting. Saat itu Yogyakarta masih menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia yang tengah menghadapi tekanan politik dan militer Belanda.
Pada masa yang sama, A.M. Sangadji dikenal aktif dalam perjuangan nasional dan memiliki peran penting dalam jaringan pergerakan Islam, termasuk dalam lingkungan Markas Pusat Laskar Hizbullah di Yogyakarta.
Menariknya, sketsa ini juga mempertemukan dua putra Kalimantan dalam satu momentum sejarah: A.M. Sangadji, tokoh pergerakan nasional asal Maluku yang banyak berkiprah di Kalimantan, dan Gusti Sholihin, seniman muda asal Kalimantan Selatan yang kemudian menjadi salah satu tokoh penting seni rupa Indonesia.
Nilai Sejarah
Sketsa karya Gusti Sholihin ini bukan sekadar karya seni rupa, melainkan juga arsip visual Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Ia merekam sosok seorang pejuang bangsa pada masa ketika Republik sedang mempertahankan kemerdekaannya.
Bagi sejarah seni rupa, karya ini memperlihatkan kemampuan Gusti Sholihin sebagai pelukis muda yang sejak awal telah mampu menangkap karakter tokoh melalui guratan pena yang ekspresif. Bagi sejarah perjuangan nasional, sketsa ini menjadi salah satu dokumentasi langka mengenai penampilan A.M. Sangadji ketika masih aktif mengabdikan diri bagi Republik.
Dengan demikian, sketsa A.M. Sangadji karya Gusti Sholihin (Yogyakarta, 10 Januari 1948) memiliki nilai ganda: sebagai karya seni yang merekam karakter seorang tokoh perjuangan sekaligus sebagai sumber visual primer yang memperkaya khazanah sejarah Revolusi Kemerdekaan Indonesia. (Red)