Opini
Pasca Kematian Pelda Panita Umar: Kisah Pelarian 48 Tapol di Belantara Buru, Antara Kebebasan dan Kematian
Oleh:
Mus Latuconsina
(Wartawan Senior Diceritakan kembali berdasarkan kisah nyata)
Infobaru.co.id, Buru – Pada penghujung tahun 1974, ketika bayang-bayang panjang konflik politik masih menyelimuti Indonesia pasca Gerakan 30 September 1965, Pulau Buru menjadi saksi bisu sebuah kisah yang pahit sekaligus menggugah. Di pulau yang sunyi dan liar itu, terdapat kamp tahanan politik (Tapol) yang dikenal sebagai Inrehab tempat para tahanan menjalani hidup dalam keterasingan.
Di antara mereka, 48 orang nekat melarikan diri ke dalam hutan lebat Pulau Buru. Hutan itu bukan sekadar pepohonan ia adalah labirin tanpa ujung. Kanopi raksasa menutup langit, akar-akar menjalar seperti perangkap, dan suara alam menggema seperti bisikan tak bersahabat. Mereka melangkah tanpa arah pasti, hanya berbekal harapan tipis akan kebebasan.
Hari-hari pertama mungkin masih diwarnai semangat. Namun, hutan Buru segera menunjukkan wajah aslinya. Persediaan makanan habis. Air sulit ditemukan. Tubuh mulai melemah. Luka-luka kecil berubah menjadi infeksi. Hujan turun tanpa ampun, membasahi tubuh yang sudah menggigil. Malam hari, dingin merayap masuk ke tulang, sementara suara binatang liar menjadi nyanyian yang menakutkan.
Sebagian dari mereka mulai tertinggal. Ada yang jatuh dan tak mampu bangkit lagi. Dalam diam, dua orang menghembuskan napas terakhir bukan karena peluru, melainkan oleh lapar, haus, dan kelelahan yang tak tertahankan. Yang tersisa terus berjalan, seperti bayangan manusia, kurus, pucat, dan hampir kehilangan harapan.
Sementara itu, di luar hutan, operasi pencarian dilakukan oleh Kodam XV Pattimura di bawah komando Harun Suwardi. Selama tiga bulan, pasukan TNI menyisir hutan, namun tanpa hasil. Hutan Buru terlalu luas, terlalu rapat, terlalu penuh rahasia.
Akhirnya, sebuah pendekatan berbeda diambil. Bukan dengan senjata, melainkan dengan kebijaksanaan. Pangdam mengajak tokoh-tokoh masyarakat dan adat Pulau Buru untuk terlibat. Mereka yang dipanggil memahami hutan bukan sebagai tempat asing, tetapi sebagai bagian dari kehidupan.
Pada 4 Januari 1975, perjalanan dimulai dari Ambon menuju Namlea dengan helikopter. Dari sana, bersama Danrem dan tokoh-tokoh lokal, mereka menuju pedalaman, ke sebuah desa kecil bernama Waekatin. Di sanalah para tetua adat berkumpul orang-orang yang mengenal setiap lekuk hutan, setiap aliran sungai, setiap jejak kehidupan.
Dalam sebuah pertemuan malam hari yang sederhana namun khidmat, rencana operasi dibahas. TNI memperkirakan pencarian akan memakan waktu dua minggu. Namun para tetua adat meminta waktu sejenak untuk berunding.
Tak sampai sepuluh menit, mereka kembali.
Mereka meminta daftar nama para pelarian dibacakan.
Satu per satu nama disebutkan. Para tetua mendengarkan dengan saksama, lalu saling berpandangan. Dengan tenang, mereka menyampaikan sesuatu yang mengejutkan: dua dari 48 orang itu telah meninggal di hutan. Sisanya 46 orang masih hidup, dan mereka tahu di mana kira-kira para pelarian itu berada.
Lebih mengejutkan lagi, mereka berkata bahwa operasi tak perlu 14 hari. Dua hari saja cukup.
Keraguan sempat muncul. Namun keyakinan para tetua adat tak tergoyahkan. “Besok mulai, lusa selesai,” ujar mereka ringan, seolah hutan telah membisikkan rahasianya.
Dan benar saja.
Hari pertama pencarian, dipandu oleh masyarakat adat, 29 orang berhasil ditemukan. Mereka dalam kondisi mengenaskan-tubuh kurus, mata cekung, langkah tertatih. Hari kedua, 17 orang lagi ditemukan. Tak ada perlawanan. Yang tersisa hanyalah manusia-manusia yang hampir kalah oleh alam.
Saat ditemukan, mereka bukan lagi pelarian yang berani, melainkan sosok-sosok rapuh yang hanya ingin bertahan hidup. Mereka diberi makan oleh para prajurit, air untuk menghidupkan kembali tubuh yang kering, dan tempat berteduh di rumah kepala desa.
Pada hari ketiga, helikopter datang menjemput. Operasi berakhir-bukan dengan kekerasan, tetapi dengan perpaduan antara kekuatan militer dan kearifan lokal.
Kisah ini bukan hanya tentang pelarian dan penangkapan. Ia adalah potret tentang betapa ganasnya alam Pulau Buru, betapa rapuhnya manusia di hadapannya, dan betapa berharganya pengetahuan tradisional yang hidup di tengah masyarakat adat.
Di balik semua itu, terselip pula duka tentang mereka yang tak pernah kembali dari hutan, yang gugur dalam sunyi tanpa saksi.
Pulau Buru menyimpan kisah itu dalam diam. Angin yang berhembus di antara pepohonannya seakan masih membawa jejak langkah mereka langkah-langkah yang perlahan menghilang, ditelan rimba yang tak pernah benar-benar bisa ditaklukkan. (*)