Infobaru.co.is, Buru – Abdullah Wael, Raja petuanan Kaiyeli Kecamatan Teluk Kaiyeli Kabupaten Buru, menolak keras tambang emas Gunung Botak dan sekitarnya dikelola perusahan.
Kepada Info Baru, Minggu (29/1/2023), Raja Abdullah menuturkan, dirinya tidak menghendaki tambang emas
Gunung Botak dan sekitarnya dikelola perusahan. Ia lebih setuju tambang emas Gunung Botak dikelola langsung oleh masyarakat.
Penolakan ini disampaikan menyusul pernyataan Bupati Buru Dr. Jalaludin Salampessy beberapa waktu lalu ketika melakukan pertemuan dengan Raja Tagalisa, Raja Fenaleisela, Raja Lilialy, Raja Kaiyeli dan pihak PT. Mitra Jaya Group. Dalam rapat tersebut Salampessy meminta para investor yang akan melakukan usaha pertambangan di Kabupaten Buru untuk harus mewajibkan memperioritaskan pekerja lokal.
“Saya sebagai Raja Petuanan Kaiyeli berkeinginan cuma satu yakni IPR atau Izin Pertambangan Rakyat bukan perusahan yang hanya akan menguntungkan perusahan dan gerbong-gerbong atau kelompok-kelompok tertentu saja.
Kami berprinsip dimana ada rakyat, di situ ada kami, kami berhak melindungi dan mensejahterakan rakyat,” kata Abdullah.
Abdullah juga sangat mendukung langkah penyisiran di Gunung Botak dan sekitarnya oleh aparat gabungan beberapa hari lalu.
“Saya sangat mendukung penyisiran yang dilakukan oleh aparat gabungan beberapa waktu lalu, saya berharap agar pemerintah mengambil langkah tegas kepada para penambang ilegal dan sesegera mungkin berusaha untuk mendapatkan IPR,” pinta Abdullah. (Sas)


