Maluku - 21 Agustus 2026

Pemprov Maluku Paparkan Sektor Unggulan di Forum AAMECC

Infobaru.co.id, Cibubur – Staf Ahli Gubernur Maluku, Umar Alhabsy, mewakili Gubernur saat menghadiri Forum Harmony Indonesia 1881 yang digelar Africa Asia Middle East Chamber of Commerce ( AAMECC), di Ballroom Hotel Artotel Living World, Kota Wisata Cibubur, Rabu malam (19/8/2026).

Dengan tema “Sinergitas Global, Kearifan Lokal untuk Indonesia Emas”, forum ini mempertemukan pemerintah daerah dengan pelaku usaha dari Afrika, Asia, dan Timur Tengah.

“Tema ini sangat relevan bagi Maluku. Kita harus membuka diri ke dunia, tapi tetap berpijak pada identitas, budaya, sumber daya, dan kepentingan rakyat Maluku,” ujar Umar saat membacakan sambutan Gubernur.

Sebagai provinsi kepulauan, Maluku membentang seluas 712.498 km². dimana 93,5 persennya laut dan 6,5 persennya daratan, dengan jumlah pulau sebanyak 1.422 pulau.

“Angka itu bukan statistik. Itu artinya laut adalah ruang hidup kami. Laut adalah jalan, dapur, tujuan wisata, sumber energi, dan masa depan ekonomi Maluku,” tegas Umar.

Untuk menjawab tantangan geografis, Pemprov kini fokus membangun konektivitas yang menyambungkan pusat produksi, pelabuhan, bandara, kawasan industri, pariwisata, dan layanan publik dalam satu jaringan ekonomi.

Beberapa proyek strategis yang sedang didorong, Blok Masela, Maluku Integrated Logistics Hub, Pengembangan Pariwisata Banda, Bendungan Way Apu dan Hilirisasi Pala dan Kelapa.

“Tujuannya jelas: membentuk rantai nilai, membuka lapangan kerja, menguatkan UMKM dan industri lokal, menaikkan pendapatan masyarakat, serta menghubungkan Maluku ke pasar nasional dan global,” jelasnya.

Dalam forum tersebut, Pemerinah Provinsi menawarkan sektor unggulan prioritas Maluku yang dapat dikerjasamakan.

Pertama, Kelautan dan Perikanan. Maluku berada di WPP 714, 715, dan 718. Lautnya kaya tuna, cakalang, tongkol, dan udang. Potensi budidaya 158 ribu hektare, baru 3.816 hektare yang tergarap. Komoditas unggulan: kerapu, kuwe, lobster, kakap, udang vaname, dan rumput laut.  Didukung 19 pelabuhan perikanan dan 15 cold storage kapasitas 940 ton, Maluku membuka peluang investasi di pengolahan ikan, penguatan rantai dingin, logistik laut, budidaya, pengalengan, produk beku, hingga teknologi ketertelusuran produk.

Kedua, Pertanian dan Perkebunan Rempah. Maluku telah dikenal dunia sejak berabad abad lalu sebagai Kepulauan Rempah. Pala dan cengkeh bukan hanya komoditas, tetapi bagian dari sejarah dunia. “Sekarang saatnya warisan itu masuk ke rantai nilai modern. Selain pala dan cengkeh, Maluku memiliki potensi kelapa, kakao, dan sagu dan komuditas lokal lainnya. Arah kami jelas. Bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi mendorong pengolahan produk unggulan daerah, standarisasi, branding, kemasan, pemasaran dan ekspor produk turunan bernilai tinggi,” kata Umar.

Ketiga, Pariwisata. Keindahan alam dan sejarah menjadi modal utama. Destinasi unggulan: Banda Neira, Kepulauan Kei, Ora, Pantai Ngurbloat, Ngurtafur, dan Pulau Bair dan destinasinlainnya.  Dengan 421 ribu hektare kawasan pariwisata, peluang terbuka lebar untuk hotel, homestay, transportasi, ekonomi kreatif, hingga desa wisata.

Keempat, Energi Terbarukan. Pengembangan tenaga surya, angin, hidro, mini dan mikrohidro, biomassa, panas bumi, serta potensi energi laut. Pemprov mengajak investor masuk dengan teknologi tepat guna untuk menggarap potensi ini.

Umar menekankan satu hal penting: konektivitas. Saat ini Maluku punya 68 pelabuhan laut dan 13 bandara. Tugas ke depan adalah memperkuat jaringan distribusi agar jarak antarpulau tidak lagi jadi penghambat, tapi jadi kekuatan ekonomi.

“Ini gambaran Maluku: besar potensinya dan terbuka untuk dikembangkan. Kami membuka pintu seluas-luasnya bagi dunia usaha. Kami butuh investasi yang membawa bukan hanya modal, tapi juga teknologi, pasar, lapangan kerja, dan peningkatan kapasitas masyarakat,” pungkas Umar.

“Marilah datang ke Maluku. Berinvestasi, membangun bersama Maluku, dan tumbuh bersama masyarakat Maluku,” ujarnya. (Red)

To Top