Infobaru.co.id, Jakartan – Di balik perjalanan hidup Dr. Ir. H. Muslimin Nasution, Menteri Kehutanan dan Perkebunan pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie, tersimpan sebuah kisah keluarga yang erat kaitannya dengan sejarah Sarekat Islam (SI) dan para pemimpin besarnya.
Kisah ini memperlihatkan bahwa hubungan di antara para tokoh pergerakan nasional tidak hanya terjalin dalam perjuangan politik dan organisasi, tetapi juga berkembang menjadi ikatan kekeluargaan yang diwariskan lintas generasi.
Ayah beliau, Parlaungan Nasution, dikenal sebagai seorang aktivis Sarekat Islam dari Sumatera Utara. Sejak usia muda, ia aktif dalam pergerakan dan banyak menimba ilmu serta pengalaman dari tiga tokoh utama Sarekat Islam, yakni H.O.S. Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, dan Abdoel Moethalib (A.M.) Sangadji.
Kedekatan dengan ketiga tokoh tersebut tidak hanya membentuk pemikiran politik dan keislamannya, tetapi juga menjadikannya bagian dari lingkungan keluarga besar Sarekat Islam.
Di sisi lain, Lasiyem, yang kemudian menjadi ibu dari Muslimin Nasution, merupakan anak angkat A.M. Sangadji ketika beliau bermukim di Surabaya. Sebagai anak angkat, Lasiyem diberi nama Lasiyem Sangadji dan di kalangan tokoh-tokoh Sarekat Islam dikenal serta diperlakukan sebagai putri A.M. Sangadji.
Seiring berjalannya waktu, Parlaungan Nasution menaruh hati kepada Lasiyem. Sebagai murid yang sangat menghormati para gurunya, ia terlebih dahulu menyampaikan niatnya kepada H.O.S. Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim. Keinginan tersebut kemudian dibicarakan bersama A.M. Sangadji selaku orang tua angkat Lasiyem.
Menurut riwayat yang berkembang di lingkungan keluarga Sarekat Islam, setelah memperoleh persetujuan, A.M. Sangadji menikahkan Lasiyem dengan Parlaungan Nasution. Bahkan diceritakan pula bahwa H.O.S. Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim hadir sebagai saksi dalam akad nikah tersebut.
Apabila riwayat ini kelak dapat diperkuat oleh sumber-sumber primer, maka kisah tersebut akan menjadi salah satu bukti eratnya hubungan persaudaraan dan kekeluargaan di antara para pemimpin Sarekat Islam pada masa pergerakan nasional.
Dari pernikahan Parlaungan Nasution dan Lasiyem Sangadji lahirlah Dr. Ir. H. Muslimin Nasution beserta saudara-saudaranya. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mewarisi nilai-nilai keislaman, nasionalisme, kesederhanaan, integritas, dan semangat pengabdian kepada bangsa yang diwariskan oleh para tokoh besar Sarekat Islam.
Warisan nilai-nilai tersebut tampak dalam perjalanan hidup Muslimin Nasution. Meskipun menyelesaikan pendidikan Teknik Mesin di Institut Teknologi Bandung (ITB), ia memilih mengabdikan dirinya pada pembangunan pertanian, kehutanan, ekonomi kerakyatan, dan perencanaan pembangunan nasional.
Kecintaannya terhadap sektor pertanian membawanya melanjutkan pendidikan doktor di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada bidang Pembangunan Wilayah dan Pedesaan.
Dalam perjalanan kariernya, ia pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem Logistik BULOG, Sekretaris Menteri Muda Urusan Koperasi, Asisten Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bidang Peningkatan Kualitas SDM dan Pengembangan IPTEK, Deputi Bidang Ekonomi Bappenas, hingga dipercaya Presiden B.J. Habibie sebagai Menteri Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia dalam Kabinet Reformasi Pembangunan (1998–1999).
Selain itu, ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Umum Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA-IPB) periode 1999–2003, aktif di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), serta mendirikan dan mengembangkan berbagai lembaga pendidikan Islam terpadu sebagai wujud kepeduliannya terhadap pembangunan sumber daya manusia.
Atas jasa dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara, pada tahun 1999 beliau dianugerahi Bintang Mahaputera oleh Presiden B.J. Habibie.
Ketika pernah mendapatkan penugasan ke Ambon sebagai PNS, Muslimin Nasution menyempatkan diri berkunjung ke Pulau Haruku, kampung halaman A.M. Sangadji. Dalam kesempatan tersebut, beliau bertemu dengan keluarga besar A.M. Sangadji melalui Muhammad Sangadji, keponakan A.M. Sangadji yang juga merupakan ayah mertua penulis biografi A.M.Sangadji, Sam Habib Mony.
Pada kesempatan itu pula, Muslimin Nasution menyampaikan harapannya agar perjalanan hidup dan perjuangan A.M. Sangadji dapat ditulis secara lebih lengkap dalam bentuk biografi atau rekam jejak sejarah. Baginya, mengenang A.M. Sangadji bukan semata-mata karena hubungan kekeluargaan, melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada seorang tokoh bangsa yang telah mengabdikan hidupnya bagi Republik Indonesia.
Harapan yang pernah beliau sampaikan itu kini perlahan mulai menemukan jalannya. Melalui penelusuran arsip, dokumen sejarah, surat kabar kolonial, literatur, serta berbagai kesaksian keluarga dan tokoh Sarekat Islam, rekam jejak perjuangan A.M. Sangadji mulai disusun kembali agar dapat dikenal oleh generasi masa kini dan masa depan.
Pada saat yang sama, kisah ini juga menjadi pengingat bahwa warisan perjuangan tidak selalu diwariskan melalui hubungan darah semata, melainkan melalui nilai, keteladanan, ikatan kekeluargaan, dan semangat pengabdian kepada bangsa. Dari A.M. Sangadji kepada Lasiyem Sangadji, dari Parlaungan Nasution kepada Muslimin Nasution, nilai-nilai itu terus hidup dan menjadi mata rantai sejarah yang menghubungkan generasi perintis kemerdekaan dengan generasi pembangun Indonesia. (Red)


