Maluku - 8 September 2025

Sianida Beredar di Tambang Rakyat Gunung Botak, Wabula: Harganya Melonjak Tinggi

Infobaru.co.id, Namlea – Aktifis Muhammadiyah Abd R Wabula mengecam penjualan B3 jenis Sianida di wilayah pertambangan rakyat gunung botak oleh PT. Inten Kemilau Alam yang merupakan mitra resmi PT. Perusahan Perdagangan Industri (PPI).

Menurutnya, selain dijual bebas harga melonjak tinggi hingga mencapai puluhan juta rupiah.

“Selain jual bebas, harga harganya pun cukup tinggi yang dilakukan PT Intan Kemilau Alam kepada para penambang rakyat di kawasan gunung botak,” jelasnya kepada media ini melalui rilisnya, Senin (8/9/2025).

Hal ini membuat para penambang rakyat yang tidak bisa menjangkau harga yang mencapai Rp. 35 juta hingga Rp.40 juta untuk satu kaleng 50 kg.

“Kami menemukan harga Sianida yang dijual di lapangan mengalami kenaikan signifikan, bahkan tidak lagi terjangkau oleh mayoritas penambang rakyat,” jelasnya.

Baginya, kondisi ini diduga dimanfaatka Ibu Diana dan Dewa yang beralamat di Unit 17 dan kelompok pemodal besar, yang memonopoli pembelian dan mempermainkan harga, sehingga masyarakat penambang kecil terpinggirkan.

Selain itu lanjuta dia, praktik kapitalistik yang terjadi telah menyebabkan ketimpangan, konflik sosial, dan kerugian ekonomi bagi masyarakat lokal yang selama ini menggantungkan hidup dari tambang Emas Gunung Botak, tambang rakyat.

Dijelaskan distributor resmi seharusnya menjadi solusi, namun saat ini justru dianggap sebagai bagian dari masalah karena kurangnya kontrol harga dan distribusi sehingga situasi ini di manfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu.

“Kami berharap agar dilakukannya peninjauan ulang terhadap kerja sama PT PPI dengan PT Intan Kemilau Alam, sebagai distributor resmi di
wilayah Gunung Botak,” tegasnya.

Selain itu, Wabula menegaskan PT. PPI menetapkan sistem distribusi dan harga yang transparan, adil.

“Kami menekankan agar diperkuatnya pengawasan terhadap penyaluran bahan kimia strategis agar tidak dimonopoli dan tidak disalahgunakanoleh kelompok Kelompok tertentu,” tegasnya.

Lagi-lagi Wabula menegaskan langka penguncian Bahan Kimia Sianida di kawasan tambang Emas Gunung Botak, yang diduga di lakukan oleh  Ibu Diana dan Dewa.

“Paska terjadinya penertiban obat-obatan yang di lakukan Polres Pulau Buru beberapa Bulan lalu, yang kurang siknifikan dan terkesan tebang pilih. Sehingga telah memutuskan kehidupan masyarakat kecil yang lagi mencari nafkah di kawasan tambang Emas Gunung Botak,” bebernya.

Baginya. lenaikan harga Bahan Kimia Sianida yang di lakukan Ibu Diana dan Dewa ini menembus angka klimaks sebesar Rp.35 juta hingga Rp.40 juta Per kaleng 50 Kg.

Ironisnya, tak tersentuh sama skali oleh pihak penegak hukum dalam hal ini Polres Pulau Buru dan Polda Maluku.

“Kami menduga jika hal ini di biarkan, mungkin saja ini barang kordinasi yang di dalamnya melibatkan pihak pihak tertentu sehingga mulai dari awal penertiban obat obatan dikawasan tambang Emas Gunung Botak sampai dengan kenaikan harga bahan Kimia Sianida. Barang milik Ibu Diana dan Dewa selalu terkontrol dengan baik dan bebas Tampa ada kendalah apapun dilapangan,” ujarnya. (Ipu)

To Top