Infobaru.co.id, Ambon – Pemerintah Provinsi Maluku dibawah nahkoda Hendrik Lewerissa – Abdullah Vanath dalam mengangkan pimpinan OPD tidak seperti pimpinan sebelumnya, guna mewujudkan “Maluku Pung Bae”.
Orang pertama di provinsi rempah-rempah ini harus melihat laedership jangan dilihat dokter atau siapa, yang penting bagaimana mempunyai manajemen kepemimpinan untuk mengelola lembaga kesehatan itu dengan baik.
Seperti calon Direktur RSUD dr. Haulussy, figur harus memiliki wawasan hubungan dengan eksternal maupun internal, karena kemampuan manajeman rumah sakit berbeda dengan OPD lain.
Manajemen kepemimpinan Direktur yang sudah teruji yang mempunyai kemampuan dan berpengalaman guna mengelola RS dengan baik
Hal ini diungkapkan Direktur Eksekutif Maluku Political Network, Wahada Mony saat ditemui media pada, Sabtu (2/8/2025)
“Manajemen rumah sakit itu unit dan seni, jika seseorang tidak memilikinya maka RS tidak berkembang, minimal ilmu kepemimpinan harus kuat untuk mengelola teori seorang,” jelasnya.
Baginya, pengangkatan pimpinan di RSUD tidak berdasarkan pada kekeluargaan dan politik tapi harus mempunyai manajemen yang baik untuk pengelola rumah sakit.
“Pimpinan Hendrik Lewerissa-Abdullah Vanath jangan seperti pimpinan sebelumnya yang karena kedekatan emosional, politik, namun melihat hasil asesmen yang menunjukan kemampuan dan pengalaman,” tegasnya.
Pemerintah harus menilai manajemen yang efektif memastikan semua departemen, mulai dari pendaftaran hingga ruang operasi, berjalan dengan lancar dan terkoordinasi.
Hal ini mengurangi waktu tunggu pasien dan memaksimalkan penggunaan sumber daya, seperti peralatan medis dan tenaga kerja.
“Calon Direktur harus mempunyai kualitas pelayanan pasien, artinya dengan manajemen yang baik, rumah sakit Haulussy dapat menetapkan dan memantau standar kualitas pelayanan.
Ini mencakup segala hal, mulai dari kebersihan fasilitas hingga keramahan staf, yang semuanya berdampak langsung pada kepuasan dan keselamatan pasien,” bebernya.
Calon Direktur dalam pengelola rumah sakit harus dapat mengelola anggaran dengan bijak, mulai dari pengadaan obat-obatan hingga gaji karyawan.
“Jika calon memiliki manajemen keuangan yang buruk dapat menyebabkan krisis finansial, yang pada akhirnya dapat mengganggu operasional dan mutu pelayanan,” harapnya.
Dijelaskan, industri kesehatan memiliki banyak peraturan ketat, baik dari pemerintah maupun lembaga akreditasi. Manajemen yang baik memastikan rumah sakit selalu patuh terhadap semua regulasi ini untuk menghindari sanksi dan menjaga reputasi.
“Pengelola yang baik tidak hanya fokus pada pasien, tetapi juga pada karyawannya. Mereka menyediakan pelatihan, pengembangan karier, dan lingkungan kerja yang positif, yang pada gilirannya akan meningkatkan motivasi dan kinerja staf.
Manajemen yang kuat adalah fondasi bagi rumah sakit untuk dapat beroperasi secara efektif, aman, dan berkelanjutan, serta memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Maluku,” ujarnya. (Ipu)


