Opini - 7 Mei 2025

Mendorong Ekonomi Perempuan dan Budaya Daerah Melalui Pasar Tradisional Khas Ambon

Oleh:
Mantek Sangadji, S.Hum
(Pegiat Budaya Maluku)

Infobaru.co.id, Ambon – Pemerintah Kota Ambon berencana membangun pasar tradisional yang dikhususkan untuk menjual makanan dan produk khas Ambon, dan akan dikelola langsung oleh para Mama Papalele.

Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya untuk mengangkat kembali kekayaan kuliner dan budaya lokal Maluku, sekaligus menjadi sarana pemberdayaan ekonomi bagi perempuan penjual tradisional yang selama ini belum memiliki tempat berdagang yang tetap dan layak.

Mama-mama Papalele merupakan sosok penting dalam aktivitas perekonomian rakyat di Ambon. Mereka dikenal sebagai penjual hasil bumi dan kuliner lokal yang berkeliling dari kampung ke kampung.

Dengan adanya pasar ini, mereka akan memiliki tempat yang representatif dan lebih aman untuk berjualan, tanpa harus berjalan jauh dan menempuh medan yang sulit. Ini adalah bentuk perhatian nyata dari pemerintah terhadap peran perempuan dalam ekonomi rakyat.

Selain menjadi tempat transaksi ekonomi, pasar ini juga akan menjadi pusat promosi budaya kuliner Ambon. Makanan khas seperti papeda, ikan kuah kuning, sagu lempeng, colo-colo, dan berbagai panganan tradisional lainnya bisa lebih dikenal luas oleh masyarakat lokal maupun wisatawan. Pasar ini akan menjadi etalase kekayaan rasa dan tradisi Maluku yang perlu dilestarikan.

Namun, penting untuk memastikan bahwa pengelolaan pasar ini melibatkan masyarakat lokal secara otentik. Artinya, yang mengisi lapak-lapak di pasar harus benar-benar warga asli Ambon atau mereka yang memahami dan menjaga cita rasa serta nilai-nilai budaya yang terkandung dalam makanan dan barang yang dijual.

Dengan begitu, keaslian budaya Ambon tetap terjaga dan tidak tergerus oleh komersialisasi yang berlebihan.

Pemilihan lokasi pasar juga menjadi hal krusial. Pasar ini perlu dibangun di tempat yang strategis, mudah diakses oleh masyarakat lokal maupun wisatawan domestik dan mancanegara.
Aksesibilitas akan sangat mempengaruhi keberlangsungan pasar ini sebagai destinasi kuliner dan budaya di kota Ambon.

Agar lebih berdampak, dukungan dari para budayawan, tokoh masyarakat, dan pelaku seni di Ambon juga sangat dibutuhkan.

Mereka bisa membantu merancang konsep pasar yang tidak hanya sekadar tempat jual beli, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan pertunjukan budaya. Misalnya dengan menghadirkan musik tradisional, tarian, atau demo masak makanan khas secara berkala.

Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku budaya, pasar tradisional Mama Papalele ini diharapkan menjadi ikon baru kota Ambon.
Ia bukan hanya simbol pemberdayaan perempuan, tetapi juga pusat pelestarian budaya yang mengangkat martabat lokalitas di tengah arus globalisasi. Ini adalah langkah besar menuju Ambon yang berbudaya, sejahtera, dan berdaya saing. (*)

To Top